Tentang Kami

Semarang kaline banjir,
ja sumelang ra dipikir
. . .

Apakah anda membaca dua larik kalimat di atas sambil berlagu? Bila iya, anda pasti sudah pernah mendengar tentang Kota Semarang, atau mungkin pernah singgah setidaknya satu kali; bahkan malah berdomisili di kota ini.

Petikan lagu Jangkrik Genggong tersebut memang sangat terkenal, sampai-sampai menjadi jargon bagi Kota Semarang. Walaupun Kali Semarang tidak selalu banjir, setidaknya ini menjadi sedikit gambaran betapa Semarang memiliki sungai dengan air melimpah. Sungai rupanya juga menjadi satu hal yang dianggap cukup penting bagi penduduk Semarang. Kami menelusuri Sungai Semarang yang legendaris, di sanalah kami melihat bahwa ini bukan hanya sungai yang menarik untuk dibawa dalam lagu. Ia adalah nadi yang menguhubungkan satu tempat dengan tempat lainnya, menjadi sumber penghidupan –berperan terhadap geliat perekonomian dari hulu hingga hilir; dan kami memandang hal menakjubkan lainnya, yaitu adanya kebudayaan-kebudayaan yang tersambung satu dengan lainnya.

Dekatnya Semarang dengan pusat-pusat kerajaan seperti Jogja dan Solo membuat Semarang menyimpan ragam budaya Jawa yang kuat, masih terus bertahan hingga kini. Disamping itu, orang-orang Semarang beradaptasi dengan budaya lainnya yang datang. Kondisi Semarang yang dikelilingi oleh 7 gunung bila dimasuki dari arah laut sebelah utara, dianggap merupakan titik keberuntungan bagi orang-orang Tionghwa ketika mendarat dan memutuskan tinggal di kota ini. Kontur tanahnya yang berbukit-bukit dengan sejumlah wilayah sedimentasi yang lebih rendah dari permukaan laut, dianggap menarik dan memiliki ikatan secara emosional bagi orang-orang Belanda, sehingga Kota Samarang sempat menjadi salah satu pusat pemerintahan Kolonial Belanda yang dianggap cukup penting. Orang Arab, Melayu, dan Gujarat yang awalnya singgah hanya untuk berdagang di kota ini, akhirnyapun menetap dan menjadi perkampungan yang terus berkembang mewarnai Kota Semarang. Ada kolaborasi budaya yang menjadi cikal bakal budaya Semarangan; mulai dari bahasa, makanan, kesenian, hingga cara hidup.

Pembauran yang terjadi dengan elok ini akan kami angkat dalam Festival Kota Lama 2018. Hal sehari-hari, yang dekat ada di sekeliling kita, yang mungkin biasa bagi sebagian orang; rupanya merupakan sesuatu yang unik bahkan dipandang istimewa bagi orang lain. Tidakkah hati kita tergetar melihat semua perbedaan ini merekat begitu kokoh menjadi fragmen yang indah? Collaboration in Diversity akhirnya menjadi tema besar yang kami usung, dengan maksud mengangkat Semarang sebagai kota yang multikultural. Disamping itu Kota Semarang adalah kota tempat merawat kenangan. Itu dibuktikan dengan banyaknya bangunan kuno yang masih berdiri dan terawat hingga kini. Contoh lainnya, di Kota Atlas ini, anda dapat menemukan penjual jajanan lawas nan legendaris yang sudah bertahan hingga 3 sampai 4 generasi, artinya sudah berlangsung antara 80 hingga 100 tahun. Namun di satu sisi pembangunan modern juga berjalan seimbang. Disamping itu kami menampung banyak sekali suara yang menyatakan kerinduan akan Semarang, baik dari mereka yang lahir di kota ini lalu merantau ke luar atau mereka yang pernah menetap pun singgah. Mengingat hal tersebut, kami ingin Festival Kota Lama kali ini menjadi sebuah cawan dimana “kangen kenangan bukan sekedar kangen-kangenan, pulang bawa kenang-kenangan”.

Datanglah, akan ada banyak hal yang membangkitkan kenangan selama berlangsungnya acara; tidak hanya untuk yang sudah berumur, namun juga dapat dinikmati untuk remaja milenial hingga anak-anak. Masanya mungkin beda, namun yang dirasa sama. Semua orang dapat menikmati lumpia, makan lekker, bermain mainan tradisional, dan masih banyak lagi. Disamping untuk melepas kerinduan, ini sekaligus dapat menjadi kesempatan merekatkan antar generasi, bahkan transfer ilmu. Keterbatasan tempat karena pembangunan yang sedang berlangsung di Kota Lama tidak menyurutkan kerja kami untuk dapat menyajikan pada anda Festival Kota Lama yang kini sudah berlangsung hingga 7 kali tanpa putus.

Festival  akan berlangsung dari tanggal 20 hingga 23 September 2018, mulai dari sekitar pukul 16:00 hingga 22:00 WIB setiap harinya, kecuali di hari Minggu yang dimulai lebih awal pukul 12.00, di Kawasan Kota Lama Semarang. Nantinya serangkaian acara dapat anda nikmati seperti: Pameran Kangenan, yang memampang kekhasan Semarang disertai informasi menarik; beragam atraksi menghibur dan pernak pernik yang meleburkan sejarah dan kebudayaan sebagaimana adanya, seperti tari tradisional, fashion show batik semarangan terkini; Pasar Sentiling yang berisi aneka kuliner legendaris seperti jamu jun, lumpia, ganjel rel, dan masih banyak lagi; pada salah satu stand yang ada, kami juga akan membawa Bonlancung, kampung pembuatan kulit lumpia terbesar yang ada di Indonesia; performa musik jazz dari Nial Djuliarso dan Tohpati; Jelajah Kota Lama dan area sekitarnya; Juga penyelenggaraan Temu Pusaka Indonesia yang bekerja sama dengan BPPI dan Pekan Film Semarang bersama dengan Sineroom. Disamping itu anda dapat menjelajah Kota Lama dengan segala romantismenya. Mengapa tidak?

Untuk informasi lebih lanjut anda dapat menguhubungi Julia di: 0811271124.

media sosial & website:
Instagram : @festivalkotalama
Website.   : www.festivalkotalama.com