“Merayakan Modernitas Kota yang Reflektif”: Parade Indis di Kota Semarang

Joseph Army Sadhyoko, sejarawan.

Kota Semarang sejak era Kolonial Belanda telah dipersiapkan menjadi sebuah kota metropolitan yang lengkap. Bermula dari pembangunan benteng, hingga menjadi sebuah kawasan tersendiri di dalam kompleksitas kota yang berciri eksklusif dan berarsitektur khas, menjadi gambaran umum Kawasan Kota Lama Semarang yang kita dapat saksikan hingga hari ini. Kawasan ini dibangun dalam kurun waktu tiga abad (17-20), dengan tujuan untuk melengkapi fungsi perdagangan, perkantoran, dan pemerintahan Kolonial Belanda.Corak kebudayaan yang juga melingkupi gaya arsitektur bangunan dan pola kehidupan penghuninya, dikenal dengan sebutan Kebudayaan Indis.

Indis merupakan serapan dari bahasa Belanda “Nederlandsch Indië” atau Hindia Belanda. Sebuah daerah jajahan Pemerintah Kolonial Belanda di Asia Tenggara, atau yang lebih lengkap dikenal dengan sebutan “Nederlandsch Oost Indië”. Kebudayaan Indis menurut Djoko Soekiman dalam bukunya Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, merupakan suatu fenomena historis yang menjadi bukti kreativitas kelompok atau golongan masyarakat pada masa kekuasaan Hindia Belanda, baik dalam menghadapi tantangan hidup tradisional Jawa maupun gaya Belanda di negeri asalnya sana. Kebudayaan Indis juga menjadi monumen estetis hasil budaya binaan yang akulturatif, serta telah mengalami imajinasi kolektif dari para pemiliknya, untuk bisa beradaptasi dengan tempat tinggal yang baru.

Upaya-upaya adaptif ini terlihat dari penyesuaian diri dengan iklim tropis Hindia Belanda, alam sekeliling, kekuasaan, dan tuntutan hidup dalam mendirikan bangunan, peralatan hidup, gaya berbusana, bahkan hingga makanan. Penyesuaian ini menjadi pintu masuk untuk mempertahankan tegaknya kekuasaan Kolonial Belanda dan mengefektifkan kepentingan ekonomi yang menyertainya.

Modernitas Reflektif

Kembali pada situasi Kawasan Kota Lama Semarang yang sangat dipengaruhi kebudayaan Indis. Kebudayaan ini membawa arah pengembangan kawasan menyesuaikan dengan perkembangan modernitas kota seturut dengan jiwa zamannya. Di samping itu, pembangunan yang terjadi dalam kurun waktu tiga abad, turut mendukung kemajuan perekonomian dan kehidupan warga kolonialis di Hindia Belanda.

Mereka yang membangun kawasan ini telah dibekali rencana yang matang, terkait pengembangan dan perubahan yang terjadi sebagai sebuah kawasan perkotaan modern. Sementara itu, dibalik pengembangan ini muncul beberapa tantanganyang menyertainya, antara lain perubahan bentuk bangunan, kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta kepadatan penghuni yang mengisi ruang-ruang di kawasan Kota Lama Semarang.

Dengan adanya tantangan pengembangan kota tersebut, maka dalam kerangka besar kebudayaan Indis ini, seluruhnya menjadi perhatian Pemerintah Kolonial Belanda. Segala hal yang menjadi tantangan dan permasalahan direspon cepat dan solutif,dengan tetap menjaga fungsi-fungsinyaberjalan sesuai dengan perencanaan yang matang.

Bangunan yang telah berdiri dengan segala daya dukungnya dianggap sebagai aset berharga. Fisik bangunan adalah modal besar untuk menjaga keberlanjutan pelaksanaan berbagai kepentingan pengembangan pemerintahan, perekonomian, dan pembangunan kota. Dari titik ini, kita semua diajak untuk berefleksi tentang arti pentingnya mempertahankan warisan Kebudayaan Indis di Kota Semarang.

Tidak semua yang ditinggalkan pihak kolonial di kawasan ini adalah hal-hal yang tidak bermanfaat dan patut dihancurkan dengan embel-embel nasionalisme dan patriotisme, ataupun dirombak mengikuti kebutuhan pasar. Perubahan yang sengaja atau tidak disengaja terjadi di dalam kawasan ini, sama saja dengan meniadakan salah satu warisan ingatan, atau bahkan menghilangkan nilai-nilai identitas dan historis bangsa Indonesia. 

Parade Merayakan Ingatan Bersama

Untuk mengingatkan kembali akan bernilainya warisan budaya adiluhung ini, maka Kawasan Kota Lama perlu menggelar perayaan ingatan bersama dalam wujud parade. Parade ini menjadi bagian penting keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, guna mendukung rencana penetapan Kota Lama sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia. Penetapan ini menjadi titik tolak pembangunan sektor pariwisata dan industri kreatif di Indonesia.

Kota Semarang memaknai Parade Indis bukan sebagai pendukung kebudayaan Barat yang sangat eksploitatif dan imperialistik, tetapi memberi pemaknaan baru sebagai wujud perayaan ingatan bersama untuk turut menjaga warisan budaya bangsa Indonesia dan dunia.

Parade bisa diwujudnyatakan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih kecil sebagai bagian dari promosi pariwisata dan industri kreatif. Lebih dari itu, parade juga menjadi simbol kepedulian kita untuk menjaga kesinambungan narasi bangsa yang fungsional namun terlupakan, akibat ketidakpahaman dan ketidakpedulian masyarakat akan kemanfaatan yang berjangka panjang.

Leave a Comment