Bedah Film: Kontroversi Garapan Apik “Kucumbu Tubuh Indahku”

Diskusi bedah film “Kucumbu Tubuh Indahku” karya Garin Nugroho hari Minggu 15/8/19 berlangsung hangat. Sekitar 200 orang memenuhi gedung Marabunta, tempat diskusi berlangsung. Meski panitia mengenakan biaya tiket masuk Rp 65.000,- via online dan Rp 75.000,- di lokasi, tidak menyurutkan antusiasme peserta. Diskusi yg digelar pukul 15:10 selepas pemutaran film dipenuhi peserta yang tidak hanya datang dari Semarang namun juga dari kota-kota di Jawa Tengah lainnya. Tampak pula beberapa wisatawan asal Belanda dan Amerika yang datang untuk menonton.

Film Kucumbu Tubuh Indahku ini memang menuai kontroversi karena  dituding mengkampanyekan LGBT.  Padahal menurut Garin yang juga hadir pada diskusi ini, pihaknya tidak bermaksud seperti itu. Menurutnya banyak pihak salah kaprah dan salah mengartikan namun tidak mau diajak duduk bersama untuk mendiskusikannya.

Film “Kucumbu Tubuh Indahku” bercerita tentang perjalanan hidup seorang Juno, dari kecil hingga dewasa yang penuh dengan pengalaman hidup traumatis. Juno kecil (Raditya Evandra) lahir di desa terpencil di daerah Jawa yang terkenal karena banyak penduduknya berprofesi sebagai Lengger Lanang, sebutan untuk penari laki-laki yang menarikan tarian perempuan. Lingkungan tempat tinggalnya yang tidak membedakan antara sisi maskulin dan feminim dari seseorang yang membentuk jati diri Juno yang tergambar dari film ini.

Selain itu Juno melulu mengalami takdir yang selalu mempertemukan dirinya akan kekerasan, kasih sayang, dan kepergian dengan bentuk yang berbeda-beda. Garapan apik keunikan cerita menghantar film ini menyabet berbagai penghargaan internasional di antaranya menjadi pemenang di Asia Pasific Screen Awards dan Festival Des 3 Continents Nantes 2018.  Bahkan juga mendapat penghargaan dari Unesco.

“Semua film karya saya, pasti akan menuai kontrofersi karena dilihat dari judulnya sudah tidak masuk akal dan menimbulkan pertanyaan. Itu saya sengaja agar film-film yang saya hasilkan bisa di buat untuk bahan diskusi, dan kebanyakan isu-isu panas yang sedang viral di Indonesia”, kata Garin. Untuk membuat satu karya saja dibutuhkan riset yang lumayan lama hingga berbulan-bulan sebelum akhirnya naik ke meja produksi untuk di buat sebuah film. Dalam waktu dekat ini Garin akan launching  film karya terbarunya. Untuk judulnya masih rahasia biar surprise, tandas Garin.

Leave a Comment