Semarang Kuno Kini Nanti: Historic Urban Landscape of Semarang Cosmopolitan City

Semarang menyimpan beribu cerita, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi. Kisah tersebut kini sedang dipampang dalam sebuah pameran di Gedung Gabungan Koperasi Batik Indonesia Kota Lama, sejak tanggal 13 September dan akan berakhir di tanggal 22 September 2019. Gedung dibuka sejak pukul 12 siang hingga 9 malam.

Disamping pameran, anda dapat juga mengikuti diskusi mengenai tahap perkembangan Semarang, besok 18 September 2019 pukul 10:00 pagi di Gedung GKBI lantai 2.

Materi pameran ini sendiri merupakan hasil penelitian dari seorang dosen arsitektut Untag Semarang, Dr.Ars Eko Nursanty, ST, MT. Ia menggali DNA kota Semarang menggunakan Historic Urban Landscape (HUL), dengan focus penelitian pada wilayah inti kota bersejarah di Semarang. Dalam paparannya ia mengungkapkan Semarang memiliki empat serambi yaitu Kauman, Pecinan, Kampung Melayu dan Kota Belanda. Keempat wilayah tersebut digambar dalam bagan seperti kupu-kupu.

HUL sendiri merupakan sebuah metode pemetaan komprehensif bagi pembuatan kebijakan pengelolaan kota yang direkomendasikan oleh Unesco pada tahun 2011, agar diadopsi secara formal oleh kota yang memiliki situs warisan, untuk mengelola pelestarian lapisan dan tempat-tempat bersejarah, agar kemudian dapat diselaraskan dengan masterplan yang dimiliki sebuah kota, kedepannya.

Ada beberapa lapisan periode yang diungkapkan dalam lembar-lembar yang dipamerkan. Hal ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi akan makna-makna yang harus dijaga sebagai warisan budaya untuk generasi kedepan.

Dalam proses penggalian yang ia lakukan, pemateri Dr.Ars Eko Nursanty, ST, MT menemukan ikatan ikatan emosional yang secara turun menurun bertahan hingga saat ini. Dengan metode HUL itu menjadi sebuah teori yang bernamakan butterfly mamoli. Dalam teori yang ditemukannya itu muncul sebuah makna yang mampu bertahan pada lapisan2 periode. Berawal dari makna, kemudian melekat menjadi DNA, yang seharusnya mengalirkan dalam darah kita sebagai warga Semarang, dari leluhur untuk kemudian diwariskan pada generasi yang akan datang. (Ulin)

Leave a Comment