• Home
  • Event
  • Profil
  • Kontak Kami
  • Blog
Berita

Dari Digitalisai Pemasaran Global Hingga Diskusi Fotografi

by masadmin September 25, 2019
written by masadmin

Seminar dan workshop “strategi digitalisasi pemasaran global untuk produk superior Jawa Tengah” mengawali seminar-seminar yang akan diadakan dalam Festival Kota Lama 2019. Berlokasi di gedung Marabunta, Senin (16/9/19) acara dimulai sejak pukul 09.00-17.00 WIB. Dalam seminar ini Direktur Fasilitas Ekspor Impor Kementrian Perdagangan, Olvy Andrianita menyampaikan materi tentang strategi peningkatan ekspor nasional melalui pemanfaatan fasilita perdagangan. Setelah itu dilanjut dengan materi tentang Global Digital Trading Ecosystem yang dibawakan oleh Amalia Prabowo sebagai Direktur Dagang Grup Indonesia.

Peserta yang datang sekitar 200 orang dan membawa UMKM masing-masing dari daerahnya. Tidak hanya dari Jawa Tengah, dari Jombang pun ikut hadir dalam seminar dan workshop ini. Seminar ini bertujuan untuk memperkenalkan UMKM Indonesia apakah bisa laku untuk dijual secara online dan di ekspor ke luar negeri. Di samping itu Amiranto Adi Wibowo (Founder Indonesia Your Hand) memandu peserta seminar untuk melakukan video call dengan kedutaan besar RI yang ada di Belanda. Mereka bertanya kepada KBRI yang ada di Belanda, apakah produk-produk UMKM yang dibawa bisa laku di pasaran belanda atau tidak. Selain di pasaran Belanda juga di pasaran Australia dan Eropa.

Beberapa produk UMKM yang ditampilkan di depan meja para peserta adalah Kopi, Krupuk udang, Wedang Uwuh, Sirup Singkong, Jahe Sereh, Jahe Instan, Basreng, Kripik Jamur Tiram, Sambel dari buah naga, sandal batik, Kopi Muwallad, stick pisang, dan Coconut Sugar.Lulu (ketua Jombang In Yaour Hand) dari Jombang sebagai salah satu peserta menanggapi positif seminar dan workshop yang diadakan oleh panitia FKL 2019. Dia berpendapat bahwa UMKM semua yang ada di Indonesia harus sering diberikan pembinaan, dan edukasi untuk bersaiing di pasar global. “Seminar seperti ini sangat bagus dan harus diadakah di setiap kota yang ada, untuk meningkatkan kualitas SDM serta produk UMKM itu sendiri,” kata Lulu. Karakter dan mental dari si pembuat produk harus yakin bahwa produknya dapat bersaing di kancah pasaar internasional.

Di hari berikutnya, Selasa (17/9/19) digedung yang sama pada jam yang sama pula diselenggarakan seminar tentang cagar budaya yang ada di Semarang. Pemateri yang didatangkan adalah perwakilan dari Kemendikbud RI yang di isi oleh  Junus Satrio Atmodjo. Junus menerangkah perlukah kota tua, kota lama, kota warisan dan kota pusaka di lestarikan?. Karena mereka semua merupakan aset berharga dan dapat dijaga keutuhannya maka harus dilestarikan sebagai bukti sejarah perkembangan kota yang sudah lama berdiri sebelum adanya penjajahan. Junus juga menerangkan agar suatu kota yang akan dijadikan sebagai kota cagar budaya tidak boleh merobohkan dan merusak bangunan yang sudah lama ditinggalkan. Namun demikian, jika Kota Lama Semarang akan dijadikan sebagai kota cagar budaya dan kota warisan dunia oleh Unesco, maka tidak boleh meninggalkan akar awal sebelum adanya penjajahan Belanda.

Kota Lama yang kita kenal sekarang sebenarnya masih dulu 3 kampung yang ada di sekitaran kota lama, yaitu Kampung Kauman, yang di isi oleh orang-orang keturuannan Arab, Kampung Melayu yang bergam masyarakat dari berbagai suku yang hidup damai dan rukun dalam satu kampung yaitu Kampung Melayu, ada lagi Kampung Pecinan yang di isi oleh semua orang keturunan tionghoa. Ke-3 kampung ini harus bersinergi dan dipadukan dengan kota Belanda atau kota lama yang kita kenal sekarang. Dalam seminar ini kurang lebih ada sekitar 85 peserta yang datang dari berbagai kalangan masyarakat daerah Semarangan.Setelah materi pelestarian kota sebagai cagar budaya ada lagi materi tentang fotografi cagar budaya yang di isi oleh Feri latief (fotografer/ wartawan foto dari majalah National Geografi. Berbagai macam candi dan benda-benda cagar budaya yang terlihat kuno dan seram di ubahnya menjadi sebuah foto bangunan candi yang indah dan menarik dengan sudut pandang dan kreatifitas memotret.

Hal ini sangat berhubungan dengan diskusi tentang pameran Semarang Kuno, Kini, Nanti yang di isi oleh Dr. Eko Nursanty dari Untag Semarang, Rabu (18/9/19) di Gedung Koperasi Batik Indonesia atau dikenal GKBI lantai 2. Santi (panggilan akrabnya) melakukan penelitian kota lama semarang melalui kaca mata arsitektur dan menemukan teori Buterfly Mamoli, yaitu 4 kawasan penting DNA dari Kota Lama Semarang yang merupakan akar dari leluhur ornag Semarang. Tentunya dengan DNA asli dari orang-orang Semarang pada zaman sebelum penjajahan, baik tradisi maupun budayanya akan tetap sama dan diwariskan turun temurun. Maka dari itu jika di lihat dari sisi sejarah semuanya akan sambung dan menjadi satu kesatuan sebagai kota yang unik dan menarik. Diskusi ini dimulai sejak pukul 10.00-12.00 WIB dan pesertanya berasal dari mahasiswa Untag dan beberapa ada yang umum.

Pada malam harinya pukul 19.30 WIB pada tempat yang sama diadakan diskusi tentang pameran fotografi dan koleksi buku fotografi karya fotografer profesional di tanah air yang diisi oleh Nur Hakim Nur Maulana salah seorang pendiri Lab story.id dan pemilik koleksi buku-buku tentang foto-foto sejarah maupun foto-foto gambar modern di Indonesia. Hal tersebut sangat diminati oleh penikmat foto atau para fotografer di Semarang karena jarang-jarang diadakan kegiatan diskusi tentang foto dan pameran koleksi buku-buku tentang fotorgrafi.

September 25, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Artikel

Booktalk Festival Kota Lama: Perjalanan Hidup 3 AnakManusia

by masadmin September 25, 2019
written by masadmin

Booktalk  hari Rabu (18/9/19) FKL 2019 menampilkan 3 buah buku novel sekaligus. A Sky Full of Stars karya Nara Lahmusi, Happy Birth Die karya Risma Ridha Annisa, dan Komorebi  karya Niken Hergaristi.

Novel Komorebi bercerita tentang penderita penyakit lupus yang tahu  umurnya tidak akan lama lagi. Sang tokoh kemudian menikmati sisa umurnya dengan berbagai aktivitas untuk memberikan kebahagiaankepada orang lain. Iatidakmau menangisi takdir yang digariskan kepadanya.  Novel Happy Birth Die bercerita tentang seorang anak yang tidak memiliki teman di sekolahkarena penampilannya seperti zombi. Namun si tokoh utama tersebut memiliki kemampuan mistis bisa melihat tanggal kematian sesorang yang sedang ber ulang tahun. Banyak temannya yang menjauhinnya kecuali satu orang teman  terpaksa berteman karena tergabung dalam satu kelompok tugas sekolah. Sementara novel yang berjudul A Sky Full of Stars menceritkan kisah anak miskin yang memiliki cita-cita tinggi untuk bisa kuliah di salah satu univeritas negeri ternama di Indonesia. Novel ini hampir mirip seperti tayangan FTV di tv swasta yaitu bercerita tentang cinta, persahabtan dan perjuangan anak orang miskin yang hidup di kota besar.

September 25, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Artikel

Mengenal Kembali Rempah-Rempah Indonesia di Acara Eksplorasa

by masadmin September 25, 2019
written by masadmin

Indonesia sebagai gudang rempah-rempah dunia sudah dikenal sejak lama. Gara-gara rempah-rempah itulah yang mendorong bangsa Eropa datang ke negeri di garis khatulistiwa ini berabad-abad lalu. Bangsa Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau Kongsi Dagang Hindia Timur,  semata-mata juga karena urusan rempah-rempah. Bermula dari rempah-rempah itulah Bangsa Belanda bisa bercokol di negeri ini selama 3,5abad.

Bagaimana dengan kita sendiri?  Masihkah kenal dengan kekayaan alam kita yang satu ini? kalau tidak kenal, mari tengok bumbu dapur kita. Setidaknya 3 sampai 5 rempah-rempah teronggok di sana.  Sebut sajajahe, langkuas, ketumbar dan sereh. Pastilah kita, terutama kaum ibu mengenali jenis rempah-rempah tersebut. Tetapi tidak sedikit pula yang sudah lupa bahkana sing. Remaja masa kini yang jarang ke dapur bisa jadi mengalami kesulitan mengenali rempah-rempah.

Untuk mengenal kembali rempah-rempah Indonesia, Festival Kota Lama 2019 menghadirkan acara Explorasa. Bertempat di Javara Culture, peserta tidak hanya diperkenalkan kembali macam-macam rempah-rempah Indonesia  tetapi juga pengetahuan lain seperti pesebaran asal rempah-rempah. “Lombok yang tumbuh semakin ketimur  Indonesia, rasanya semakin pedas,” ungkap Rizal Mala yang menjadi narasumber dalam acara ini. 

Sementara itu, Dindin Mediana dari Javara Culture menyebutkan bahwa tujuan  ExploRasa adalah agar anak-anak muda sekarang lebih mengenal nama-nama dan jenis rempah yang ada di Indonesia, “kalau bukan kita yang menjaganya, nanti akan diambil oleh negara lain, maka sudah kewajiban saya untuk membagi ilmu tentang rempah kepada generasi muda sekarang,” kata Dindin.

September 25, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Newer Posts
Older Posts

Recent Posts

  • Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang
  • ARAK-ARAKAN INDISCHE PARADE TANDAI BERAKHIRNYA Festival Kota Lama 2019
  • Line Dance On The Street Ramaikan Hari Terakhir Festival Kota Lama 2019
  • Panggung Sketsa Musik Kota Lama Ramaikan Hari Jadi ke-7 Arsisketur
  • Belajar Wayang Suket di Acara Kids Fun Kota Lama

Recent Comments

    Archives

    • September 2022
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • September 2018
    • March 2018
    • September 2017

    Categories

    • Artikel
    • Berita
    • Blog
    • Budaya
    • Event
    • Film
    • Kuliner
    • Musik
    • News
    • Sejarah
    • Uncategorized

    @2019 - All Right Reserved. Designed and Developed by Festival Kota Lama

    Festival Kota Lama
    • Home
    • Event
    • Profil
    • Kontak Kami
    • Blog