• Home
  • Event
  • Profil
  • Kontak Kami
  • Blog
Artikel

Jejak Sejarah Gedung Marabunta atau Schouwburg

by masadmin August 1, 2019
written by masadmin

Joseph Army Sadhyoko – Sejarawan

Gedung Marabunta di Kawasan Kota Lama Semarang yang tampak antik dan unik dengan hiasan dua patung semut raksasa di dindingnya, dulu bernama Gedung Schouwburg. Dalam bahasa Belanda ,Schouwburg memilikiarti gedung pertunjukan atau teater.

Gedung ini sebenarnya tidak diketahui persis kapan dibangunnya.Tetapi para arkeolog Balar memperkirakan gedung Shouwbrug dibangun setelah pembongkaran benteng Kota Lama pada tahun 1824, sejalan dengan pengembangan kawasan permukiman di Kota Semarang dan jalan pos Daendels. Gedung ini dibangun dengan tujuan untuk menyediakantempat hiburan bagipara penghuni kawasan Kota Lama yang waktuitudidominasi warga Eropa.

Gedung yang berkapasitas ratusan penonton ini, dilengkapi pula denganistal di seberangnya, yang dimaksudkan untuk tempat “parkir” kuda yang saat itu menjadi moda transportasi yang umum digunakan oleh warga Eropa. Begitu banyaknya kuda yang sering ditambatkan di sana berakibat munculnya bau kotoran yang menyengat, sehingga ada yang menyebut nama gang di seberang pintu masuk utama gedung itu sebagai gang tai.

Pada era kolonialisme Belanda, di gedung inisering dipentaskan komedi Stamboel. Stamboel sendiri adalah istilah serapan darikata Istambul, yang merujuk pada nama kota di Turki tempat komedi ini berkembang luas di daratan Eropa. Stamboel merupakanteater sandiwara keliling mirip sirkus di Eropa yang diadopsi di Hindia Belanda. Saking seringnya Komedi Stamboel dipentaskan di sana, maka nama jalan di depan gedung akhirnya juga dikenal dengan nama Komedistraat.

Selain komedi, di sana kerap ditampilkan pula musik dan lagu-lagu dari para musisi dan penyanyi terkenal, juga beragam tarian, mulai dari tari tradisional hingga tari erotis. Ada salah satu artis legendaris kelahiran Belanda yang juga pernah menampilkan tari erotis di sana, yaitu Matahari. Matahari yang awalnya dikenal sebagaiseorang penari erotis profesional, dalam perjalananan hidupnya kemudian terlibat dalam berbagai skandal prostitusi kelasatas yang melayani sejumlah elit politikEropa. Iabahkan diduga menjadi agen spionase gandauntukJerman sekaligus Perancis selama masa Perang Dunia pertama. Kisah hidupnya makin melegenda karena berakhir tragis, dijatuhi hukuman mati.

Pada masa perang dunia kedua atau lebih tepatnya pada masa penjajahan Jepang yang lalu disambung dengan perang untuk merebut kemerdekaan, gedung Schouwburg bernasib merana. Kumuh dan rusak di sana-sini karena tidak digunakan dan kurang perawatan.

Pada masa pasca kemerdekaan, Kodam VII Diponegoro mendapatkan hak untuk menggunakan gedung ini. Pengelolaan gedung in ikemudian diserahkan ke perusahaan Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) yang bernama Marabunta dan merupakan Badan Usaha Purnawirawan Angkatan Darat Kodam VII/Diponegoro. Marabunta sendiri adalah nama spesies semut raksasa yang ganas. Gedung ini pun kemudian diberi nama sama dan namanya direpresentasikans ecara visual dengan patung semut raksasa tersebut di dindingnya. Sisa bangunangedung yang berada di sebelah selatanberhasildiselamatkan. Penyelamatan dan perawatan bangunan ini terus berlanjut di bawah Yayasan Diponegoro, hingga akhir dekade 1960-an.

Sisi bangunan yang terselamatkan ini,dulunyamerupakan bar atau kafe untuk tempat pengunjung bersantai usai menyaksikan pementasan di gedung utama. Pada bentuk aslinya, panggung pementasan menghadap arah utara dengan bentuk bangunan oval utuh. Sisi selatan yang diselamatkanini, sekarangterus dikembangkan untuk menunjang wisata di Kawasan Kota LamaSemarang. Kini, gedungtersebutberfungsisebagai gedung pertunjukan bergaya Indis yang bisa digunakan untu ktempat pementasan seni budaya dan juga disewakan untuk resepsi pernikahan.

August 1, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Berita

“Merayakan Modernitas Kota yang Reflektif”: Parade Indis di Kota Semarang

by masadmin July 6, 2019
written by masadmin

Joseph Army Sadhyoko, sejarawan.

Kota Semarang sejak era Kolonial Belanda telah dipersiapkan menjadi sebuah kota metropolitan yang lengkap. Bermula dari pembangunan benteng, hingga menjadi sebuah kawasan tersendiri di dalam kompleksitas kota yang berciri eksklusif dan berarsitektur khas, menjadi gambaran umum Kawasan Kota Lama Semarang yang kita dapat saksikan hingga hari ini. Kawasan ini dibangun dalam kurun waktu tiga abad (17-20), dengan tujuan untuk melengkapi fungsi perdagangan, perkantoran, dan pemerintahan Kolonial Belanda.Corak kebudayaan yang juga melingkupi gaya arsitektur bangunan dan pola kehidupan penghuninya, dikenal dengan sebutan Kebudayaan Indis.

Indis merupakan serapan dari bahasa Belanda “Nederlandsch Indië” atau Hindia Belanda. Sebuah daerah jajahan Pemerintah Kolonial Belanda di Asia Tenggara, atau yang lebih lengkap dikenal dengan sebutan “Nederlandsch Oost Indië”. Kebudayaan Indis menurut Djoko Soekiman dalam bukunya Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, merupakan suatu fenomena historis yang menjadi bukti kreativitas kelompok atau golongan masyarakat pada masa kekuasaan Hindia Belanda, baik dalam menghadapi tantangan hidup tradisional Jawa maupun gaya Belanda di negeri asalnya sana. Kebudayaan Indis juga menjadi monumen estetis hasil budaya binaan yang akulturatif, serta telah mengalami imajinasi kolektif dari para pemiliknya, untuk bisa beradaptasi dengan tempat tinggal yang baru.

Upaya-upaya adaptif ini terlihat dari penyesuaian diri dengan iklim tropis Hindia Belanda, alam sekeliling, kekuasaan, dan tuntutan hidup dalam mendirikan bangunan, peralatan hidup, gaya berbusana, bahkan hingga makanan. Penyesuaian ini menjadi pintu masuk untuk mempertahankan tegaknya kekuasaan Kolonial Belanda dan mengefektifkan kepentingan ekonomi yang menyertainya.

Modernitas Reflektif

Kembali pada situasi Kawasan Kota Lama Semarang yang sangat dipengaruhi kebudayaan Indis. Kebudayaan ini membawa arah pengembangan kawasan menyesuaikan dengan perkembangan modernitas kota seturut dengan jiwa zamannya. Di samping itu, pembangunan yang terjadi dalam kurun waktu tiga abad, turut mendukung kemajuan perekonomian dan kehidupan warga kolonialis di Hindia Belanda.

Mereka yang membangun kawasan ini telah dibekali rencana yang matang, terkait pengembangan dan perubahan yang terjadi sebagai sebuah kawasan perkotaan modern. Sementara itu, dibalik pengembangan ini muncul beberapa tantanganyang menyertainya, antara lain perubahan bentuk bangunan, kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta kepadatan penghuni yang mengisi ruang-ruang di kawasan Kota Lama Semarang.

Dengan adanya tantangan pengembangan kota tersebut, maka dalam kerangka besar kebudayaan Indis ini, seluruhnya menjadi perhatian Pemerintah Kolonial Belanda. Segala hal yang menjadi tantangan dan permasalahan direspon cepat dan solutif,dengan tetap menjaga fungsi-fungsinyaberjalan sesuai dengan perencanaan yang matang.

Bangunan yang telah berdiri dengan segala daya dukungnya dianggap sebagai aset berharga. Fisik bangunan adalah modal besar untuk menjaga keberlanjutan pelaksanaan berbagai kepentingan pengembangan pemerintahan, perekonomian, dan pembangunan kota. Dari titik ini, kita semua diajak untuk berefleksi tentang arti pentingnya mempertahankan warisan Kebudayaan Indis di Kota Semarang.

Tidak semua yang ditinggalkan pihak kolonial di kawasan ini adalah hal-hal yang tidak bermanfaat dan patut dihancurkan dengan embel-embel nasionalisme dan patriotisme, ataupun dirombak mengikuti kebutuhan pasar. Perubahan yang sengaja atau tidak disengaja terjadi di dalam kawasan ini, sama saja dengan meniadakan salah satu warisan ingatan, atau bahkan menghilangkan nilai-nilai identitas dan historis bangsa Indonesia. 

Parade Merayakan Ingatan Bersama

Untuk mengingatkan kembali akan bernilainya warisan budaya adiluhung ini, maka Kawasan Kota Lama perlu menggelar perayaan ingatan bersama dalam wujud parade. Parade ini menjadi bagian penting keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, guna mendukung rencana penetapan Kota Lama sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia. Penetapan ini menjadi titik tolak pembangunan sektor pariwisata dan industri kreatif di Indonesia.

Kota Semarang memaknai Parade Indis bukan sebagai pendukung kebudayaan Barat yang sangat eksploitatif dan imperialistik, tetapi memberi pemaknaan baru sebagai wujud perayaan ingatan bersama untuk turut menjaga warisan budaya bangsa Indonesia dan dunia.

Parade bisa diwujudnyatakan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih kecil sebagai bagian dari promosi pariwisata dan industri kreatif. Lebih dari itu, parade juga menjadi simbol kepedulian kita untuk menjaga kesinambungan narasi bangsa yang fungsional namun terlupakan, akibat ketidakpahaman dan ketidakpedulian masyarakat akan kemanfaatan yang berjangka panjang.

July 6, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Artikel

Ini Dia Pemenang Rally Photo Festival Kota Lama 2018

by masadmin September 23, 2018
written by masadmin

Tidak lengkap menyusuri kawasan Kota Lama tanpa mengabadikan sudut-sudut bangunan indahnya melalui kamera. Salah satu rangkaian acara Festival Kota Lama 2018 memberi kesempatan para pecinta fotografi untuk mengikuti kompetisi Rally Photo dengan menyusuri kawasan Kota Lama dan mengabadikannya melalui kamera.

Setelah melalui proses seleksi dan penjurian, berikut ini hasil karya dan nama-nama para pemenangnya

Juara I: @jadylaksono
Juara II: @agunganantonugroho
Juara III: @pirapur

Selamat ya!

September 23, 2018 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Newer Posts
Older Posts

Recent Posts

  • Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang
  • ARAK-ARAKAN INDISCHE PARADE TANDAI BERAKHIRNYA Festival Kota Lama 2019
  • Line Dance On The Street Ramaikan Hari Terakhir Festival Kota Lama 2019
  • Panggung Sketsa Musik Kota Lama Ramaikan Hari Jadi ke-7 Arsisketur
  • Belajar Wayang Suket di Acara Kids Fun Kota Lama

Recent Comments

    Archives

    • September 2022
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • September 2018
    • March 2018
    • September 2017

    Categories

    • Artikel
    • Berita
    • Blog
    • Budaya
    • Event
    • Film
    • Kuliner
    • Musik
    • News
    • Sejarah
    • Uncategorized

    @2019 - All Right Reserved. Designed and Developed by Festival Kota Lama

    Festival Kota Lama
    • Home
    • Event
    • Profil
    • Kontak Kami
    • Blog