• Home
  • Event
  • Profil
  • Kontak Kami
  • Blog
Artikel

Gereja Blenduk Objek Favorit Melukis On The Spot

by masadmin September 24, 2019
written by masadmin

Sekitar 100 pelukis unjuk kebolehan dalam acara Melukis On The Spot Festival Kota Lama Semarang 2019.  Mereka tidak hanya berasal dari Semarang tetapi juga datang kota-kota di Jawa Tengah lainnya bahkan juga dari Yogyakarta. Panas terik matahari tidak menyurutkan gairah para pelukis untuk mengekpresikan kecintaannya akan kota lama di atas kanvas. Acara yang digelar saat matahari mulai meninggi ini membuat para pelukis harus pandai-pandai mencari lokasi melukis yang teduh dan sesuai dengan angel gedung yang dibidiknya.

Gereja Blenduk menjadi obyek favorite para pelukis.  Hampir separuh peserta melukis Gereja Blenduk dari berbagai sudut.

Gedung lain yg juga banyak dijadikan obyek lukis adalah gedung Marba.  Warna menyolok dan jendela-jendela besar di tampak mukanya, membuat gedung ini menarik untuk dipindahkan ke atas kanvas. Selain ke dua  gedung itu, ada pula yang melukis gedung Spiegel, Jiwasraya dan gedung-gedung sepanjang jalan Letjen Suprapto dan Oudetrap.

Karya lukis on the spot ini akan di pamerkan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dan boleh diperjualbelikan. Kebetulan kebanyakan para peserta Melukis On The Spot ini  merupakan peserta pameran lukisan di TBRS yg sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu.

September 24, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Event

Pameran Kopi Susu: Dua Dunia Dalam Satu Visual Puitis

by masadmin September 20, 2019
written by masadmin

Gedung GKBI (Gabungan Kopersi Batik Indonesia) menjadi salah satu venue utama Festival Kota Lama Semarang 2019. Di gedung ini digelar Pameran lukisan, fotografi, dan Semarang Kuno, Kini, dan Nanti setiap hari sejak tanggal 13 hingga 22 September.  Pameran dibuka gratis untuk umum dari pukul  12:00 hingga 21:00 WIB.

Lantai satu digelar pameran lukisan karya Gupta Chancai. Gupta lahir di India tahun 1971, bermula dari ahli teknologi tekstil dan pakaian lalu bekerja diperusahaan pakaian di Inonesia tahun 1998. “Secara profesional saya mulai melukis di tahun 2012”, ucap Gupta. Lukisannya dibangun dari banyak lapisan ide, masing-masing ide itu menciptakan warna, ide mengalir sendiri di permukaan kanvas yang terbuka sesuai interpretasi penonton. Pokok bahasan lukisannya adalah kepercayaan akan tradisional dan abstrak yang dipadukan gaya modern. Pameran lukisan ini diberi nama “Canvas By Heart” karena melukisnya menggunakan perasaan yang tertuang dalam sebuah lukisan abstrak bergaya tradisional modern. Koleksi seni sebagai alat untuk memicu dialog yang kaya tentang ide dan keprihatinan zaman kita, pada akhirnya mengisnpirasi orang-orang untuk mengambil risiko, belajar, dan bertumbuh.

Naik ke lantai 2,  pameran fotografi dan buku-buku tentang foto. Disinijugadipamerkan poster-poster Semarang Kuno, Kini, Nanti karya dosen arsitektur Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang. Dosen tersebut adalah Dr. Ars Eko Nursanty, ST, MT. Poster tersebut berjudul “Historic Urban Landscape (HUL) Of Semarang Cosmopolitan City”. Pameran tersebut menggali DNA Kota Semarang menggunakan Historic Urban Landscape di wilayah pusat dagang Semarang lama yaitu Kauman, Pecinan, Kampung Melayu, dan Kota Belanda (Kota Lama). HUL merupakan sebuah metode penelitian untuk menceritakan sebuah metode penelitian untuk menceritakan sebuah tempat dapat memiliki makna melalui 3 lapisan periode yaitu saat ini, yang lalu, dan masa lalunya masa lalu hingga pada akhirnya dapat memberikan rekomendasi makna yang harus dijaga sebagai warisan budaya untuk generasi ke depan. Dalam temuan teori itu muncul sebuah makna yang mampu bertahan pada lapisan-lapisan generasi berikutnya.

Nah yang cukup menarik di lantaiduainiadalahPameran Kopi Susu. Pameran Kopi Susu bukan kopi dan susu yang biasa diminum. Namun pameran fotografi karya Rosa Verhoeve yang bertema Kopi Susu. Rosa lahir di Belanda di lingkungan tandus di Amstelveen. Sebagai generasi kedua Indo, Rosa tumbuh dalam suasana kenangan yang tertutup. Setelah di Belanda, orang tua Rosa mengubur dalam-dalam masa lalu kolonial untuk selama-lamanya. Rosa pun penasaran dengan Hindia Timur (Indonesia), karena kedua orang tuanya terlihat jauh lebih bahagia daripada hidup di Belanda. Rosa penasaran dengan Indonesia, pada tahun 1958, dia akhirnya mengunjungi Indonesia dan melakukan proyeknya selama 7 tahun. Dengan perjalanan Kopi Susunya, Rosa akan menggali nostalgia kehidupan orang tuanya ketika berada di Indonesia. Kopi Susu tidak merujuk pada masa lalu yang tidak berubah, tetapi menjadi ruang imajiner yang abadi. “Saya telah berusaha untuk menciptakan kembali keberadaan saya atau sebagai anak dari 2 dunia menjadi bahasa visual puitis”, kata Rosa. Eksperimen lebih dari sekedar sejarah pribadi. Sekarang ada sekitar 1,6 juta jiwa orang kopi susu yang tinggal di Belanda. Seperti generasi kedua dan ketiga dapat mengidentifikasikan diri dari tema Kopi Susu.

September 20, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Sejarah

Semarang Kuno Kini Nanti: Historic Urban Landscape of Semarang Cosmopolitan City

by masadmin September 20, 2019
written by masadmin

Semarang menyimpan beribu cerita, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi. Kisah tersebut kini sedang dipampang dalam sebuah pameran di Gedung Gabungan Koperasi Batik Indonesia Kota Lama, sejak tanggal 13 September dan akan berakhir di tanggal 22 September 2019. Gedung dibuka sejak pukul 12 siang hingga 9 malam.

Disamping pameran, anda dapat juga mengikuti diskusi mengenai tahap perkembangan Semarang, besok 18 September 2019 pukul 10:00 pagi di Gedung GKBI lantai 2.

Materi pameran ini sendiri merupakan hasil penelitian dari seorang dosen arsitektut Untag Semarang, Dr.Ars Eko Nursanty, ST, MT. Ia menggali DNA kota Semarang menggunakan Historic Urban Landscape (HUL), dengan focus penelitian pada wilayah inti kota bersejarah di Semarang. Dalam paparannya ia mengungkapkan Semarang memiliki empat serambi yaitu Kauman, Pecinan, Kampung Melayu dan Kota Belanda. Keempat wilayah tersebut digambar dalam bagan seperti kupu-kupu.

HUL sendiri merupakan sebuah metode pemetaan komprehensif bagi pembuatan kebijakan pengelolaan kota yang direkomendasikan oleh Unesco pada tahun 2011, agar diadopsi secara formal oleh kota yang memiliki situs warisan, untuk mengelola pelestarian lapisan dan tempat-tempat bersejarah, agar kemudian dapat diselaraskan dengan masterplan yang dimiliki sebuah kota, kedepannya.

Ada beberapa lapisan periode yang diungkapkan dalam lembar-lembar yang dipamerkan. Hal ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi akan makna-makna yang harus dijaga sebagai warisan budaya untuk generasi kedepan.

Dalam proses penggalian yang ia lakukan, pemateri Dr.Ars Eko Nursanty, ST, MT menemukan ikatan ikatan emosional yang secara turun menurun bertahan hingga saat ini. Dengan metode HUL itu menjadi sebuah teori yang bernamakan butterfly mamoli. Dalam teori yang ditemukannya itu muncul sebuah makna yang mampu bertahan pada lapisan2 periode. Berawal dari makna, kemudian melekat menjadi DNA, yang seharusnya mengalirkan dalam darah kita sebagai warga Semarang, dari leluhur untuk kemudian diwariskan pada generasi yang akan datang. (Ulin)

September 20, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Newer Posts
Older Posts

Recent Posts

  • Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang
  • ARAK-ARAKAN INDISCHE PARADE TANDAI BERAKHIRNYA Festival Kota Lama 2019
  • Line Dance On The Street Ramaikan Hari Terakhir Festival Kota Lama 2019
  • Panggung Sketsa Musik Kota Lama Ramaikan Hari Jadi ke-7 Arsisketur
  • Belajar Wayang Suket di Acara Kids Fun Kota Lama

Recent Comments

    Archives

    • September 2022
    • September 2019
    • August 2019
    • July 2019
    • September 2018
    • March 2018
    • September 2017

    Categories

    • Artikel
    • Berita
    • Blog
    • Budaya
    • Event
    • Film
    • Kuliner
    • Musik
    • News
    • Sejarah
    • Uncategorized

    @2019 - All Right Reserved. Designed and Developed by Festival Kota Lama

    Festival Kota Lama
    • Home
    • Event
    • Profil
    • Kontak Kami
    • Blog